Horror Story

Perempuan Capuchino

Angin yang bertiup kencang di akhir september, mengugurkan dedaunan prunus serrulata yang berwarna merah jambu, tampak cantik dah syahdu beradu dengan langkah seorang pemuda berkemeja putih dan celana bahan hitam serta dasi biru tua bergaris putih yang dikenakannya sore itu. 

Askha, pemuda itu berlari kecil menerabas hujan, Semua itu ia lakukan agar ia tidak melewatkan detik-detik senja, di kedai kopi langganannya dua bulan terakhir ini. 

“tring..tring..” ia membuyikan lonceng kecil yang menggantung di pintu kedai, sebagai tanda bagi tiap pengunjung yang masuk kedalam kedai itu.

“irasshaimase..” Sapa pelayan perempuan, berbusana yukatta warna krem, sambil sedikit membungkukan badan.

Askha membalas sapaan perempuan pelayan itu dengan seutas senyum dan sedikit menundukan kepala.

Ia pandangi sesaat suasana di dalam kedai kopi langanannya ini, sebuah tempat bernuansa etnik dan dipadukan dengan design interior art deco yang keseluruhan cat nya berwarna putih. Lalu, ia melangkah menuju meja favoritnya, deretan meja paling belakang disisi kanan dari pintu masuk kedai, sebab dari tempatnya duduk ini ia bisa bisa melihat dengan jelas semburat langit senja yang menguning keemasan karena atap yang ada persis diatas kepalanya itu terbuat dari kaca.

Pelayan yang sedari awal menyambut askha tampak berjalan menuju meja nya.

“irrassaimase. Gochuumon wa?” Tanya sang pelayan sambil menyodorkan kertas menu kedai ini.

“Shinguru rongu esupuresso o kudasai.” Ashka memesan ekspreso ukuran besar.

sang pelayan mengangguk paham lalu tampak beranjak menuju meja bar, tempat dimana miunuman biasa dibuat.

dalam duduk ia pandangi langit senja yang mulai menguning keemasan, lembut dan berbinar. Pikirannya seketika terlempar jauh kebelakang, mengingat saat pertama kali ia menginjakan kaki di negeri sakura, yang pada tatap perempuan-perempuannya, sang proklamator pernah terpikat.

Sudah menginjak tahun kelima dia disini, selepas menamatkan beasiswa S2 nya di waseda, ia melanjutkan untuk kerja di salah satu badan riset teknologi di negeri itu. Pikirnya, ia ingin menimba pengalaman sebelum nanti dia kembali pulang ke indonesia dan siap mendedikasikan seluruh keilmuan yang ia dapat untuk memberikan maanfaat bagi negeri tercinta, negeri asalanya, tempat ia lahir dan tumbuh besar.

beberapa waktu yang lalu teman-teman setanah airnya, yang juga satu perkumpulan pelajar di negeri itu sempat mencibirnya. kata mereka, buat apa pulang ke indonesia toh orang-orang seperti kita kurang dihargai disana. Lebih baik tinggal disini, nyaman, hidup terjamin dan sejahtera.

Tapi ia, askha. Pemuda itu tetap pada pendiriannya. Bahwa keyakinan hati yang kuat serta doa yang tulus pasti akan mampu memwujudkan impian terbesar, dihatinya. Yaitu, kelak dengan memberi manfaat sebanyak-banyakya untuk negeri tercinta. Ia tidak peduli dengan bagaimana nanti cara birokrasi akan mempresulit jalan untuk ia bisa mewujudkan mimpinya itu, baginya hidup hanya terlalu singkat bila untuk digunakan mengejar materi semata, sungguh tipikal pemuda yang idealis.

Tanpa sadar, pandangannya yang menengadah keatas itu dikagetkan dengan datangnya sang pelayang sambil membawa nampan berisi minuman yang ia pesan.

“douzo, meshi agatte kudasai..” Ucap sang pelayan begitu meletakan segelas besar ekspreso panas di meja askha.

“arigtou gozaimash..” Balas askha.

Padangannya yang teralihkan seiring dengan warna langit yang mulai gelap. Disesapnya perlahan minuman pesanannya itu, sambil menup-niup pelan asap tipis yang mengepul di bibir gelas yang digenggamnya.

Ia perhatikan suasanan sekeliling kedai yang tampak sepi. Yang ia lihat hanya sepasang suami-istri paruh baya yang duduk saling berhadapan di meja paling depan, Juga dua pelayan perempuan yang ada di sisi pintu kedai lalu sang bartender yang berdiri di sisi belakang meja bar.

Baru saja ia letakan gelas ekspresonya, tetiba terdengar suara samar gemrincing lonceng dari arah pintu masuk, praktis dari posisi mejanya asha bisa lihat jelas seorang yang baru masuk kedalam kedai.

Perempuan berambut pendek sebahu tergerai dengan balutan kaos lengan panjang hitam. Perempuan itu menuju salah satu meja yang hanya terpaut satu meja di depan ashka.

Perempuan itu memposisikan duduk, dan tak berapa lama sang pelayan segera menghampiri tamu yang baru masuk itu dengan kalimat yang persis seperti yang ia ucapkan pada ashka. Dari sini, ashka bisa dengar jelas minuman yang dipesan si perempuan. Secangkir capuchino.

Beberapa menit berlaalu saat ashka sesekali memperhatikan perempuan yang duduk di sebrang mejanya itu menyesap perlahan capuchinonya. Ada getaran yang tidak biasa di dada askha, sebentuk perasaaan aneh yang muncul begitu saja, seperti munculnya hembusan angin. 

“aku enggak mungkin pulang segera ke jakarta, ras. Sebelum aku selesaikan semua masalahku disini.” Sebuah percakapan telfon yang terdengar dari bibir tipis perempuan itu, matanya yang bulat sempurna parasnya yang manis, sungguh membuat ashka terpikat. Terlebih, begitu ia dengar jika perempuan itu ternyata berasal dari negara yang sama dengannya. 

Ada sebentuk keinginan dihati kesil ashka untuk mendekati meja si perempuan lalu berkenalan, namun rasa kagumnya pada pandangan pertama pada sang perempuaan manis itu entah mengapa membuat nyali ashka ciut, dan ia hanya bisa meperhatikannya dalam diam.

Hampir empat puluh menit berlalu saat ashka melirik angka digital di arloji army yang melingkar di pergelangan tangan kananya. Ekspreso di mejanya pun telah habis, begitu juga dengan capuchino di meja perempuan itu.

Tak lama berselang, sang perempuan beranjak dari duduk menuju meja kasir. Lalu seketika keluar pintu kedai ini, meninggalkan ashka yang masih duduk di tempatnya. 

****
sepuluh hari berlalu, seiring sepuluh kali senja yang ia lewati sejak saat itu. Dan sepuluh kali itu pula , saat detik-detik sang mentari turun keperaduannya, ia nikmati senja di kedai ini, berjibaku dengan diamnya memperhatikan perempuan itu, perempuan yang selama sepuluh hari itu mengunjungi kedai yang sama, dengan pesanan yang selalu sama yaitu segelas capuchino panas.

Namun saat hari kesebelas, ashka ditugaskan oleh atasnya untuk dinas ke luar kota yang jarak tempunya dua jam dari tempat ia bekerja, alhasil di hari itu ia tak bisa menikmati senja di kedai kopi langgannya. Dan melihat perempuan capuchino yang mampu memikat hati askha selama sepuluh hari belakangan ini.

Ashka menikmati senja nya di kedai lain, kedai yang ada di sudut kota dimana ia kunjungi. Saat tengah menyesap perlahan ekspreso panas favoritnya, ia lihat sebuah berita di layar TV led empat puluh inchi yang tergantung ditengah tengah kedai, sebuah lintasan berita sekilas peristiwa yang ada di salah satu chanell. Tentang berita kematian seorang perempuan yang tersenyum di sebuah kedai usai menikmati segelas capuchino panas. Diberitakan disana penyebab sementara kematiannya diperkirakan akibat kandungan sianida pada kopi yang diminumnya. 

askha yang tampak terkejut, bangkit dari duduk dan berjalan mendekat kearah tv. Untuk memastikan perihal berita yang dilihatnya sore itu.

“dia, perempuan itu…..” Gumamnya dalam hati begitu melihat jelas wajah korban.

“Perempuan Capuchino..” Lanjutnya.

-THE END –

https://www.kaskus.co.id/show_post/5c9641ba65b24d36e25da3c4/15/perempuan-capuchino#_ga=2.78337172.1273787888.1554953341-1992972598.1553483195

You Might Also Like...

No Comments

    Leave a Reply