Romance

Terserah Cinta Atau Tidak, Yang Penting Kamu Dalam Doaku

Menerka!
Itulah yang setiap hari kulakukan akhir-akhir ini.

Sejujurnya, aku penasaran tentang kegiatanmu hari ini.
Sudah makan kamu hari hari ini?
Bagaimana perasaanmu hari ini?
Adakah aku, kau ingat hari ini?
Seperti aku yang selalu mengingatmu sampai hari ini.

Namun gengsiku terlalu tinggi untuk memulai percakapan. Berkali ku pandangi handphone yang memang tak pernah bisa lagi jauh dariku. Menunggu notifikasi darimu. Tapi ratusan kali notifikasi, ratusan kali juga aku kecewa.

Lalu aku berpikir, “ah sudahlah”. Aku tak sanggup membiar begini.

Untuk pertama kalinya kuacuhkan gengsi yang meraung-raung dalam hatiku. Kumulakan percakapan ini dengan mengetik namamu lengkap tanpa salah, satu hurufpun.

Kuperhatikan, dan yakin !
Ku kirim segera.
Setengah jam aku menunggu.
Dan “Ya” jawabmu singkat.
Tak enak logikaku melanjutkan percakapan, namun hati seakan tak hirau. Tak tahu malu ku lanjutkan apa yang ingin ku sampaikan.

Berjuang kumemilih bahan untuk kuceritakan padamu. Bukan tak ada cerita, terlalu banyak. Hingga akupun bingung harus memilih yang mana yang harus kuceritakan terlebih dahulu.

Namun apa?
Kukira responmu akan berapi-api setelah kusampaikan ceritaku yang sudah ku kemas semenarik mungkin.
Gila … ini di luar ekspektasiku.
Datar !!

Setelah sebelumnya kau selalu bercerita padaku tentang hari-harimu.
Hei, aku mendengarmu dengan baik loh! Hingga aku hafal nama semua temanmu, hingga musuhmu.

Bosan? Tidak sama sekali !
Aku senang mendengarmu bercerita tentang hari-harimu.
Walau berbeda dengan hari-hariku, walau jauh tapi aku bahagia mendengarnya.

Menyadari bahwa kau melibatkanku setiap akhir harimu. Aku menikmatinya. Kupikir inilah caramu jika berbicara tentang cinta.

Dan ada aku di dalamnya.
Orang yang kau hubungi sebelum kau berangkat ke kasurmu, orang yang mendengarkanmu berkeluh kesah dengan lelahnya harimu.

Tapi akhir-akhir ini kau kemana?
Tak lagi kau hubungi aku.
Tak lagi kau ceritakan hari-harimu.
Tak lagi kau bermanja minta dibangunkan di pagi hari.

Aku pikir dengan aku menghubungimu pertama, semuanya kembali. Aku ingin kau seperti anak-anak saat ibunya kembali dari pergi ke pasar atau bekerja. Mereka riang berbinar-binar menyambut ibunya.

Logika ku bermain di sana. Dan aku mulai bertanya, siapa yang aku hubungi kemarin setiap malam? Kenapa siang hari dia berubah menjadi pribadi yang berbeda? Dia Bipolar? Atau malah aku yang Psikopat?

Hey !
Kau membuatku bertanya-tanya. Sebenarnya kau itu cinta atau malah benci padaku?

Aku penasaran, bagaimana bentuk rasa suka yang pernah kau utarakan padaku waktu itu. Tentang hatiku tak perlu ditanya lagi bagaimana.
Tapi, apa kau bahkan bertanya?

Kadang kita seperti kekasih lama yang tak perlu ragu untuk bercerita.
Kadang kita seperti orang asing yang harus ada batas dalam bicara.

Sudahlah…
Apapun itu yang penting kamu dalam doaku.

https://www.kaskus.co.id/thread/5d886cce6df2314b1b7f1f0a/terserah-cinta-atau-tidak-yang-penting-kamu-dalam-doaku/?ref=threadlist-16&med=thread_list&style=compact

No Comments

    Leave a Reply